KUBU RAYA — Ketika sebagian orang memilih menjauh dari kobaran api, para relawan Pandu Siaga PKS justru bergerak mendekat. Dengan perlengkapan dan tenaga yang terbatas, mereka berjibaku memadamkan api yang melanda kawasan Jalan Sultan Agung No. KM 24, atau sekitar Jalan Soeharto KM 23,6, Desa Kuala Dua, Kecamatan Sungai Raya, Kabupaten Kubu Raya.
Bukan sekadar datang, menyemprotkan air, lalu pulang. Tim Pandu Siaga PKS bertahan di lokasi, berjuang menghadapi panas, asap dan kelelahan demi mencegah api semakin meluas dan membahayakan masyarakat.
Perjuangan itu bahkan membuat para relawan harus beristirahat seadanya di sekitar lokasi pemadaman. Dalam kondisi tubuh yang sudah sangat lelah setelah berjam-jam berjibaku dengan api, mereka rela tidur di area pemadaman dengan kondisi serba terbatas.
Bagi mereka, keselamatan masyarakat adalah prioritas. Istirahat bisa dilakukan kapan saja. Namun ketika api masih mengancam, perjuangan tidak boleh berhenti.
Suasana di lokasi menggambarkan betapa beratnya perjuangan para relawan. Di tengah panas dan kepulan asap, mereka terus bekerja secara bergantian. Ada yang mengoperasikan peralatan pemadam, ada yang memastikan suplai air, sementara lainnya membantu mengamankan area sekitar.
Perjuangan tersebut juga diikuti langsung oleh Mushar, perwakilan pengurus DPW PKS yang turut turun ke lapangan bersama tim Pandu Siaga.
Menurut Mushar, kehadiran relawan di tengah masyarakat bukan semata-mata menjalankan tugas organisasi, tetapi merupakan bentuk nyata kepedulian dan pengabdian kepada kemanusiaan.
“Kami datang bukan untuk mencari pujian. Ketika masyarakat membutuhkan pertolongan, kami harus hadir. Selama api masih mengancam, selama tenaga masih ada, kami akan terus berjuang. Ini adalah bagian dari pengabdian kepada masyarakat dan kemanusiaan,” ujar Mushar di sela-sela perjuangan memadamkan api”, Ahad (23/8/2026).
Ia menegaskan, rasa lelah yang dirasakan para relawan tidak sebanding dengan rasa lega ketika api berhasil dikendalikan dan masyarakat dapat kembali merasa aman.
«“Kalau akhirnya kami harus tidur seadanya di lokasi, itu bukan masalah. Yang penting masyarakat aman. Inilah semangat Pandu Siaga: hadir ketika dibutuhkan, bergerak ketika masyarakat membutuhkan pertolongan,” tegasnya.»
Perjuangan Pandu Siaga PKS menjadi gambaran bahwa kemanusiaan tidak selalu hadir dalam bentuk kata-kata. Kadang ia hadir melalui langkah kaki yang terus bergerak ketika tubuh mulai lelah, tangan yang tetap bekerja ketika tenaga menipis, dan keberanian untuk berdiri di tengah panas ketika orang lain memilih menyelamatkan diri.
Di lokasi pemadaman, mereka tidak sedang mengejar sorotan kamera. Mereka sedang mempertaruhkan tenaga demi satu tujuan sederhana: api harus padam dan masyarakat harus selamat.
Dari tengah kepulan asap itulah semangat kemanusiaan kembali menyala. Bukan api yang mereka biarkan membesar, tetapi keberanian untuk membantu sesama.
Pandu Siaga PKS hadir. Bergerak. Berjuang. Demi kemanusiaan. (Ben)







