Ketika Asap Semakin Pekat, Kemanusiaan Menyatukan Kita

Opini19 Views

Ada saatnya perbedaan harus berhenti di tepi kepentingan. Ketika api membakar lahan, asap menutup pandangan, dan udara berubah menjadi sesak, yang tersisa hanyalah satu pertanyaan: siapa yang mau turun tangan?

Di tengah kepungan asap karhutla yang masih membara di sejumlah wilayah Kalimantan Barat, sebuah pemandangan sederhana justru menghadirkan pesan yang besar. Sejumlah relawan pemadam api dari PKS Kalimantan Barat berdiri bersama masyarakat, komunitas relawan dan TNI Polri di hamparan lahan yang baru saja ditaklukkan dari kobaran api.

Mereka berdiri dengan pakaian berbeda. Seragam berbeda. Latar belakang berbeda. Tetapi di sana, tidak ada sekat.

Yang ada hanya satu tujuan: memadamkan api dan menyelamatkan kehidupan.

Di balik foto tersebut, mungkin tidak terlihat bagaimana panas menyengat kulit. Tidak terlihat bagaimana asap membuat mata perih dan napas terasa berat. Tidak pula terlihat perjuangan menyusuri lahan gambut dan semak yang sewaktu-waktu bisa kembali menyala.

Namun justru di situlah nilai kepahlawanan itu berada.

Pahlawan tidak selalu datang dengan pangkat. Tidak selalu membawa senjata. Kadang ia datang dengan sepatu bot yang penuh lumpur, selang air di tangan, masker di wajah, dan keberanian untuk mendekati api ketika orang lain memilih menjauh.

Kolaborasi antara relawan PKS, masyarakat, komunitas dan aparat kepolisian menunjukkan bahwa menghadapi karhutla tidak mungkin dilakukan seorang diri. Api tidak mengenal warna seragam, pilihan politik, status sosial ataupun latar belakang seseorang.

Api hanya mengenal satu hal: apa yang mudah dibakarnya.

Karena itu, melawan karhutla pun membutuhkan satu kekuatan yang lebih besar daripada sekadar ego kelompok: kebersamaan.

Di lapangan, relawan PKS hadir bukan sebagai kelompok yang berdiri sendiri. Mereka menjadi bagian dari ikhtiar bersama. Bahu-membahu dengan masyarakat yang paling dekat dengan lokasi kebakaran, komunitas yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan, serta aparat yang memiliki tugas menjaga keamanan dan keselamatan warga.

Inilah wajah lain dari politik kemanusiaan.

Politik yang tidak berhenti di ruang rapat. Politik yang tidak hanya hadir melalui spanduk dan slogan. Tetapi politik yang turun ke tanah, menginjak lahan yang hangus, berhadapan dengan asap, dan ikut merasakan panasnya perjuangan masyarakat.

Sebab pada akhirnya, kemanusiaan tidak membutuhkan kartu anggota.

Ketika seorang warga membutuhkan pertolongan, yang dibutuhkan bukan pertanyaan tentang siapa dia. Ketika api mengancam permukiman, yang diperlukan bukan perdebatan tentang siapa yang paling berjasa. Yang diperlukan adalah tangan-tangan yang bersedia bekerja.

Dan tangan-tangan itu, hari ini, datang dari banyak pihak.

Karhutla Kalimantan Barat bukan sekadar persoalan api. Ia adalah persoalan ekologis, kesehatan, ekonomi, pendidikan, dan masa depan generasi yang akan datang. Ketika asap pekat menyelimuti langit, anak-anak kehilangan ruang belajar yang sehat. Ketika kualitas udara memburuk, masyarakat harus membatasi aktivitas. Ketika lahan terbakar, bukan hanya tumbuhan yang hilang, tetapi juga kehidupan yang bergantung padanya.

Karena itu, perjuangan memadamkan api harus berjalan beriringan dengan perjuangan mencegah api kembali menyala.

Relawan bisa memadamkan kobaran hari ini. Aparat bisa melakukan penegakan hukum. Pemerintah dapat memperkuat kebijakan. Masyarakat dapat menjaga lingkungannya. Komunitas dapat terus mengedukasi. Dan seluruh elemen bangsa dapat mengambil bagian sesuai kemampuannya.

Sebab api mungkin bermula dari satu titik, tetapi untuk menghentikannya dibutuhkan kekuatan banyak tangan.

Foto ini akhirnya bukan sekadar dokumentasi orang-orang yang berdiri di depan lahan terbakar. Ia adalah simbol bahwa di tengah udara yang penuh asap, masih ada harapan.

Ada relawan yang memilih datang ketika keadaan sulit.

Ada masyarakat yang memilih peduli.

Ada komunitas yang memilih bergerak.

Ada aparat yang memilih berdiri bersama warga.

Dan ada semangat kebersamaan yang mengatakan bahwa bencana sebesar apa pun akan terasa lebih ringan ketika dihadapi bersama.

Kalimantan Barat hari ini membutuhkan lebih banyak kolaborasi, bukan lebih banyak sekat.

Sebab ketika hutan terbakar, yang kita pertahankan bukan milik kelompok tertentu.

Yang kita pertahankan adalah udara yang kita hirup bersama, tanah tempat kita berpijak, lingkungan tempat anak-anak kita tumbuh, dan masa depan yang kelak diwariskan kepada generasi berikutnya.

Maka biarkan api menjadi musuh kita bersama.

Dan biarkan kemanusiaan menjadi alasan kita untuk terus bergandengan tangan.

Karena ketika asap membumbung tinggi dan api masih membara, kepedulian tidak boleh ikut padam. (Ben)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *