PONTIANAK — Ketika langit Kalimantan Barat kembali diselimuti kabut asap, persoalan karhutla tidak lagi sekadar tentang api yang membakar semak, gambut, dan hutan. Di balik pekatnya asap, ada masyarakat yang harus menghirup udara tidak sehat, anak-anak yang aktivitasnya terganggu, warga yang membutuhkan air bersih, hingga mereka yang memiliki gangguan pernapasan dan membutuhkan dukungan oksigen.
Dalam situasi seperti ini, kepedulian tidak cukup hanya diwujudkan melalui kata-kata. Ia membutuhkan kehadiran, tenaga, waktu, dan keberanian untuk turun langsung ke tengah masyarakat.
Hal itulah yang dilakukan PKS Kalimantan Barat melalui gerakan kemanusiaan menghadapi kebakaran hutan dan lahan, kabut asap, serta kemarau panjang yang melanda sejumlah wilayah Kalimantan Barat.
Respons tersebut bergerak melalui jajaran DPD PKS di berbagai daerah. Di Kota Pontianak, layanan kemanusiaan mencakup pembagian masker, rumah oksigen, distribusi air bersih, hingga Tim Reaksi Cepat Pemadaman Hutan dan Lahan. Di Kubu Raya, kepedulian diwujudkan melalui pembagian masker, penyediaan rumah oksigen dan distribusi air bersih.
Sementara di Sintang, selain pembagian masker, air bersih dan rumah oksigen, PKS juga mengerahkan Tim Reaksi Cepat untuk membantu penanganan pemadaman hutan dan lahan.
Respons serupa dilakukan di Ketapang melalui pembagian masker dan air bersih. Di Landak, masyarakat mendapatkan dukungan masker dan air bersih, sedangkan di Kayong, distribusi air bersih menjadi bagian dari respons kemanusiaan menghadapi dampak kemarau.
Yang menarik, gerakan pembagian masker tidak berhenti pada beberapa daerah tersebut. Seluruh DPD PKS se-Kalimantan Barat juga memiliki program pembagian masker kepada masyarakat sebagai bentuk edukasi sekaligus perlindungan sederhana namun penting di tengah kualitas udara yang memburuk.
Sebab, menghadapi karhutla bukan hanya soal bagaimana memadamkan api. Ada persoalan kesehatan masyarakat yang harus dipikirkan bersamaan. Ada keluarga yang membutuhkan air untuk kebutuhan sehari-hari ketika sumber air mulai mengering. Ada kelompok rentan yang membutuhkan perlindungan lebih ketika asap semakin tebal. Dan ada masyarakat yang membutuhkan rasa aman bahwa mereka tidak menghadapi bencana ini sendirian.
Ketua DPW PKS Kalimantan Barat, H. Sabirin, S.P., M.P., mengatakan bahwa persoalan karhutla harus dilihat sebagai persoalan kemanusiaan yang membutuhkan kepedulian dan kolaborasi seluruh elemen masyarakat.
“Karhutla bukan hanya persoalan api. Ketika asap menyebar, dampaknya dirasakan oleh masyarakat luas. Karena itu, respons kita juga harus menyentuh masyarakat secara langsung, mulai dari perlindungan kesehatan, pemenuhan kebutuhan air bersih, layanan oksigen, sampai membantu pemadaman di lapangan,” ujar Sabirin.
Menurutnya, kehadiran kader dan relawan PKS di tengah masyarakat merupakan bagian dari komitmen untuk terus memberikan manfaat dalam situasi apa pun.
“Kita ingin masyarakat merasakan bahwa di tengah kondisi sulit seperti ini, masih ada yang datang membantu, masih ada yang peduli. Masker mungkin terlihat sederhana, air bersih mungkin terlihat biasa, tetapi ketika masyarakat sedang menghadapi asap dan kemarau, bantuan tersebut memiliki arti yang sangat besar,” katanya.
Sabirin juga menekankan bahwa penanganan karhutla tidak dapat dilakukan oleh satu kelompok saja. Pemerintah, aparat, relawan, komunitas, dunia usaha dan masyarakat harus membangun sinergi agar persoalan karhutla dapat ditangani secara lebih efektif.
“Yang paling penting adalah kolaborasi. Api tidak mengenal batas organisasi, batas komunitas maupun batas wilayah. Karena itu, kepedulian juga jangan dibatasi oleh sekat-sekat tersebut. Siapa pun yang memiliki kemampuan untuk membantu, mari bersama-sama mengambil peran,” tegasnya.
Pesan tersebut menjadi penting karena karhutla sesungguhnya bukan hanya tentang apa yang terlihat dari kobaran api. Di balik titik-titik api terdapat ekosistem yang rusak, aktivitas masyarakat yang terganggu, biaya sosial dan ekonomi yang tidak sedikit, serta kualitas udara yang menentukan kesehatan generasi hari ini dan masa depan.
Ketika asap memenuhi udara, masyarakat mungkin hanya melihat langit yang berubah kelabu. Tetapi bagi seorang anak, asap berarti kesempatan bermain yang berkurang. Bagi orang tua, asap berarti kekhawatiran terhadap kesehatan keluarga. Bagi petani, kemarau panjang berarti kecemasan terhadap sumber air dan keberlangsungan usaha. Dan bagi para relawan, asap adalah panggilan untuk bergerak.
Karena itu, respons kemanusiaan harus berjalan beriringan dengan edukasi. Masyarakat perlu terus diingatkan tentang bahaya pembakaran lahan, pentingnya menjaga lingkungan, kewaspadaan terhadap titik api, serta pentingnya menggunakan masker dan mengurangi aktivitas di luar ruangan ketika kualitas udara memburuk.
Di tengah situasi tersebut, PKS Kalbar memilih untuk hadir dengan pendekatan yang sederhana namun nyata: membantu masyarakat bertahan menghadapi dampak bencana sekaligus mengajak semua pihak memperkuat kesadaran bersama.
Api mungkin dapat dipadamkan dengan air. Tetapi persoalan karhutla membutuhkan sesuatu yang lebih besar: kesadaran, kedisiplinan, gotong royong dan kepedulian.
Sebab, ketika hutan terbakar, yang hilang bukan hanya pepohonan. Ketika lahan mengering, yang terancam bukan hanya tanah. Dan ketika asap memenuhi udara, yang dipertaruhkan bukan sekadar jarak pandang, melainkan kesehatan dan kehidupan manusia.
Di tengah kabut asap yang menyelimuti Kalimantan Barat, satu pesan harus terus dijaga: jangan biarkan kepedulian ikut padam bersama api.
PKS Kalbar melalui seluruh jajaran dan relawannya berupaya menjadikan respons kebencanaan bukan sekadar kegiatan sesaat, tetapi bagian dari ikhtiar menghadirkan politik kemanusiaan—politik yang turun dari ruang-ruang pertemuan menuju jalanan, pemukiman, kawasan terdampak, dan masyarakat yang membutuhkan.
Karena pada akhirnya, ukuran kepedulian bukanlah seberapa keras seseorang berbicara tentang bencana, melainkan seberapa jauh ia bersedia hadir ketika masyarakat sedang membutuhkan pertolongan. (Ben)













